Competitions
Achraf Hakimi dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika 2025. Pencapaian bersama Paris Saint-Germain musim lalu jadi alasannya. Penobatan itu dilakukan pada Malam Penghargaan Federasi Sepakbola Afrika (CAF) di Rabat, Rabu (19/11/2025) malam waktu setempat. Hakimi mengalahkan winger Liverpool Mohamed Salah dan striker Galatasaray Victor Osimhen.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden CAF Patrice Motsepe. Hakimi berperan besar mengantarkan PSG menjuarai empat turnamen, yakni Liga Champions, Ligue 1, Piala Prancis, dan Piala Super Eropa tahun ini. Prestasi gemilang inilah yang mengantarkannya pada penghargaan individu tertinggi di sepak bola Afrika.
Dia juga mencetak satu gol ke gawang Inter Milan di partai final Liga Champions. Gol penting ini semakin mengukuhkan kontribusinya bagi kesuksesan PSG musim lalu. Penampilan konsisten sepanjang musim membuatnya layak meraih penghargaan bergengsi ini.
Achraf Hakimi membuat 11 gol dan 16 assist dari 55 laga musim lalu. Statistik mengesankan untuk seorang bek ini membuatnya jadi pemain belakang pertama yang memenangi award itu sejak mantan bek Timnas Zaire (sekarang RD Kongo) Bwanga Tshimen pada 1973. Prestasi ini mematahkan dominasi pemain depan yang selama ini menguasai penghargaan.
Dia juga jadi pemain Maroko pertama yang memenanginya sejak Mustapha Hadji pada 1998. Jarak 27 tahun sejak pemain Maroko terakhir meraih penghargaan ini membuat kemenangan Hakimi semakin spesial. Prestasinya sekaligus mengukuhkan kebangkitan sepak bola Maroko di kancah global.
Pencapaian Hakimi tidak lepas dari performa gemilangnya bersama PSG musim lalu. Kemampuannya berkontribusi baik di sektor bertahan maupun menyerang membuatnya menjadi pemain kompleks yang sulit dicari tandingannya di posisi bek kanan.
"Ini momen membanggakan karena saya bisa memenangi penghargaan prestisius ini," ujar Hakimi di ESPN. "Award ini bukan cuma untuk saya, tapi untuk para pria dan wanita tangguh di luar sana yang punya mimpi jadi pesepakbola di Afrika." Pernyataan ini menunjukkan kesadarannya sebagai inspirasi bagi generasi muda Afrika.
"Dan untuk mereka yang selalu percaya dengan saya sejak kecil, bahwa saya akan jadi pemain profesional suatu saat nanti. Saya ingin berterima kasih kepada mereka semua," sambungnya. Pengakuan ini mencerminkan sifat rendah hati dan tidak melupakan asal usulnya.
Pidato Hakimi menyentuh banyak kalangan, terutama anak-anak muda Afrika yang bercita-cita menjadi pesepakbola profesional. Kesuksesannya membuktikan bahwa dengan kerja keras dan tekad, mimpi untuk bersaing di level tertinggi sepak bola dunia bisa tercapai.
Pemain Maroko menyapu bersih penghargaan individu tahun ini. Ghizlane Chebbak jadi pesepakbola wanita pertama Maroko yang memenangi award pemain terbaik, mengungguli kompatriotnya Sanaa Mssoudy dan pemain Nigeria Rasheedat Ajibade. Prestasi ini melengkapi kesuksesan Hakimi di kategori pria.
Gelar pelatih terbaik jatuh ke Bubista, yang berhasil membawa negara kepulauan kecil Cape Verde lolos ke Piala Dunia 2026. Meski bukan dari Maroko, kemenangan pelatih asal Cape Verde ini menunjukkan bahwa sepak bola Afrika semakin kompetitif dan tidak lagi didominasi negara-negara besar.
Kesuksesan Hakimi dan rekan-rekannya menjadi bukti kebangkitan sepak bola Afrika di kancah global. Prestasi mereka menginspirasi banyak pemain muda Afrika untuk terus bermimpi dan bekerja keras mencapai kesuksesan di level internasional. Simak terus berita dan analisis sepak bola terbaru hanya di ShotsGoal!