Competitions
Brasil Perempuan baru saja melangsungkan laga Persahabatan dengan Amerika Serikat Perempuan di tanggal 10 Juni pagi WIB. Pada laga yang berlangsung di Arena Castelao, Fortaleza itu, Amerika Serikat Perempuan berhasil menang dengan skor 0-1.
Satu-satunya gol di laga ini terjadi di Babak Kedua, tepatnya di menit ke-63. Gol diciptakan oleh pemain Brasil, Isabela Chagas. Dia berusaha untuk memblok tembakan dari Sophia Wilson, namun malah membuat bola masuk ke gawangnya sendiri. Namun, bukan skor atau teknik permainan yang mencuri perhatian di laga ini, melainkan terjadinya delapan kartu merah yang diberikan kepada Brasil.
Wasit harus mengeluarkan delapan kartu merah, dengan rincian empat pemain dan empat bagian kepelatihan dari Brasil. Dua kartu merah pertama terjadi terhadap pemain Brasil. Bia Zaneratto terlebih dahulu mendapat kartu merah di menit 90 + 4 karena dua kartu kuning. Lalu, Tarciane de Lima mendapat kartu merah setelah menyikut Wilson pada menit 90 + 9.
Kartu merah tersebut kemudian memicu kemarahan dari staf Brasil. Sebanyak empat orang diberikan kartu merah oleh sang wasit karena memprotes keputusan sang wasit. Empat orang tersebut adalah sang pelatih kepala, Arthur Elias, serta tiga anggota stafnya.
Setelah laga berakhir, wasit kembali mengeluarkan kartu merah kepada dua pemain Brasil. Sang wasit, yang bernama Paola Cebollada Lopez, terlebih dahulu memberi kartu merah kepada Kerolin Ferraz karena berdebat terhadap sang wasit. Ludmila da Silva, yang melihat kejadian tersebut, kemudian memberi tepuk tangan sarkas kepada sang wasit. Lopez, yang melihat hal tersebut, kemudian mengeluarkan kartu merah untuknya, sehingga dia total harus memberikan delapan kartu merah di laga ini.
Emma Hayes, yang menjadi pelatih Amerika Serikat, mengaku kejadian ini adalah salah satu kejadian yang mungkin dia tidak akan lupakan. "Bisa menang melawan Brasil di Brasil itu sangat sulit. Saya senang bisa memenangkan laga ini," ujar Hayes.
"Kerumunan penonton menciptakan kondisi yang mempersulit keadaan, tetapi memang begitulah adanya. Dan yang saya yakini adalah, ketika Piala Dunia datang ke sini tahun depan bersama FIFA, akan ada ekspektasi perilaku yang sangat jelas bagi kita semua, dan memang seharusnya begitu. Ini adalah permainan global," sambung Hayes.
Seperti yang diketahui, Piala Dunia 2027 nantinya akan dihelat di Brasil pada 24 Juni hingga 25 Juli 2027 mendatang. Karena itu, Hayes berharap ini bukan sistem permainan yang akan ditampilkan oleh Brasil pada turnamen tersebut. "Saya berharap Brasil tidak bermain kasar seperti ini pada turnamen nanti. Ini bukan permainan Brasil yang saya kenal," pungkas Hayes.
Salah satu pemain Amerika Serikat, Lindsey Heaps, memberikan pendapat senada. "Brasil sangat mungkin menjadi lawan kami andai kami melaju ke Babak Final. Jadi, saya harap Babak Final Piala Dunia nanti tidak akan seperti itu. Saya berharap lebih banyak aktivitas sepak bola yang dimainkan dibandingkan apa yang ditampilkan oleh Brasil pada laga tadi," sebut Heaps.
Simak terus berita sepak bola lainnya secara update dan akurat hanya di ShotsGoal!