Competitions
Alvaro Morata sedang berusaha keras untuk mewujudkan kepindahannya ke Como, bahkan hingga mengambil langkah ekstrem dengan mogok latihan bersama Galatasaray.
Striker berusia 32 tahun itu bergabung dengan Galatasaray pada Februari 2025 dalam status pinjaman dari AC Milan hingga Januari 2026, dengan kewajiban pembelian permanen. Namun, Morata kini berupaya membatalkan kesepakatan tersebut demi bergabung dengan klub Serie A tersebut.
Morata dilaporkan tidak kembali ke Turki setelah masa liburan berakhir, menunjukkan sikap tidak profesional demi memaksakan keinginannya. Menurut pakar transfer Turki, Yagiz Sabuncuoglu, penyerang asal Spanyol itu masih berada di negaranya dan enggan kembali ke Galatasaray.
Langkah ini dinilai sebagai upaya serius untuk mendorong klub melepasnya. Galatasaray sejauh ini belum bersedia melepaskan Morata, mengingat kontraknya yang masih panjang.
Klub tersebut juga masih mengandalkan Morata sebagai bagian dari skuad utama, terutama sambil menunggu pemulihan Mauro Icardi dari cedera. Namun, ketegangan antara pemain dan klub semakin meningkat seiring dengan aksi mogok latihan ini.
Morata dikabarkan telah mencapai kesepakatan pribadi dengan Como, menunjukkan komitmennya untuk segera bergabung dengan klub yang baru promosi ke Serie A tersebut.
Salah satu faktor pendorong keinginannya adalah proyek ambisius yang dibangun oleh pelatih Cesc Fabregas, rekan senegaranya yang juga mantan bintang Arsenal dan Barcelona. Como, yang baru saja kembali ke kompetisi elit Italia, berambisi memperkuat skuad dengan pemain berpengalaman seperti Morata.
Kehadiran striker berkelas internasional ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas serangan tim. Morata sendiri tampak antusias dengan tantangan baru di Italia, setelah sebelumnya membela Juventus dan AC Milan.
Namun, Galatasaray masih enggan melepas Morata tanpa kompensasi yang memadai. Mereka telah mengeluarkan biaya untuk memboyongnya dari Milan dan berharap dapat mempertahankannya setidaknya hingga akhir masa pinjaman. Situasi ini membuat negosiasi antara ketiga klub semakin rumit.
Aksi mogok latihan Morata berpotensi merusak hubungannya dengan Galatasaray dan manajemen klub. Sikap tidak profesional seperti ini dapat memengaruhi reputasinya di dunia sepak bola, terutama di mata klub-klub yang mungkin ingin merekrutnya di masa depan.
Selain itu, langkah ini juga bisa berdampak pada nilai transfernya. Galatasaray mungkin akan meminta harga tinggi sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan dari pemain. Como, yang belum tentu memiliki anggaran besar, bisa kesulitan memenuhi tuntutan tersebut.
Jika situasi ini berlarut-larut, Morata berisiko kehilangan kesempatan bermain secara reguler di musim depan. Baik Galatasaray maupun Como mungkin akan mempertimbangkan ulang keputusan mereka jika Morata dinilai terlalu bermasalah.
Meskipun Morata sudah menyetujui kontrak dengan Como, proses transfernya masih jauh dari kata selesai. Galatasaray memegang kendali penuh atas masa depan pemain ini, dan mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan melepasnya dengan mudah.
Jika Como serius ingin mendapatkan Morata, mereka harus bernegosiasi lebih intensif dengan Galatasaray, termasuk mungkin meningkatkan penawaran transfer. Alternatif lain adalah Morata kembali ke AC Milan terlebih dahulu sebelum kemudian dipinjamkan atau dijual ke Como.
Keputusan akhir akan sangat bergantung pada seberapa jauh Morata bersifat keras kepala dalam mogok latihan, serta apakah Galatasaray akhirnya bersedia berkompromi. Jika transfer ini gagal, Morata harus bersiap menghadapi konsekuensi, termasuk kemungkinan dikucilkan dari skuad utama Galatasaray.