Competitions
Atletico Madrid harus menerima konsekuensi besar setelah aksi rasis yang dilakukan sebagian suporternya saat menghadapi Arsenal pada Matchday Keempat Liga Champions 2025/2026. Dalam pertandingan di Emirates Stadium tersebut, beberapa fans Atletico menirukan suara dan gestur monyet setiap kali pemain Arsenal berkulit hitam memegang bola. Perilaku tersebut langsung mengundang kecaman dari berbagai pihak.
Selain tindakan rasis, insiden lain ikut terjadi ketika sejumlah suporter membuat gestur salam Nazi yang dilarang keras dalam kompetisi UEFA. Peristiwa itu terekam kamera dan dilaporkan oleh wasit, sehingga tidak mungkin diabaikan oleh otoritas pertandingan.
Rangkaian kejadian tersebut membuat atmosfer pertandingan tercoreng. Bukannya fokus pada permainan, perhatian publik justru tertuju pada perilaku tak pantas dari tribune pendukung Atletico.
Setelah melakukan investigasi, Komisi Disiplin UEFA menjatuhkan sanksi kepada Atletico Madrid berdasarkan Pasal 14 ayat 2 mengenai tindakan rasisme. UEFA menilai bahwa insiden itu bukan hanya mencoreng nama klub, tetapi juga melanggar nilai dasar sepak bola.
Hukuman tidak hanya berkaitan dengan aksi rasis, tetapi juga perilaku buruk lainnya, termasuk pelemparan benda ke dalam lapangan setelah tim mereka kalah 0-4. Bukti pengawasan pertandingan menguatkan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh fans Atletico.
Kasus ini menjadi salah satu yang paling tegas ditangani UEFA musim ini, sejalan dengan komitmen mereka untuk memberantas tindakan diskriminatif di seluruh kompetisi Eropa.
Menurut laporan ESPN, Atletico Madrid kini diwajibkan membayar denda sebesar 30 ribu euro atau setara Rp 578 juta. Denda itu menjadi konsekuensi atas aksi rasis yang dilakukan para suporternya.
Tidak berhenti di situ, klub juga dikenai hukuman percobaan selama satu tahun berupa larangan satu pertandingan tandang tanpa kehadiran suporter. Jika fans mereka kembali berulah dalam 12 bulan ke depan, sanksi itu akan langsung diberlakukan.
UEFA juga menjatuhkan denda tambahan sebesar 10 ribu euro terkait insiden pelemparan benda ke lapangan. Keseluruhan hukuman ini menjadi peringatan keras bagi klub untuk memperketat pengawasan terhadap perilaku pendukungnya.
Selain Atletico, UEFA juga memberikan hukuman kepada klub Azerbaijan, Qarabaq, setelah ditemukan dugaan tindakan rasis dan diskriminatif pada laga UEFA Youth League melawan Chelsea pada 5 November.
Qarabaq harus membayar denda 5.000 euro dan dijatuhi sanksi satu pertandingan kandang tanpa penonton, yang juga bersifat percobaan selama setahun. Kasus ini menunjukkan bahwa UEFA konsisten menerapkan aturan tanpa memandang besar kecilnya klub.
Dengan hukuman-hukuman terbaru ini, UEFA menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang aman, menghormati keberagaman, serta bebas dari diskriminasi di semua level kompetisi. Jangan lewatkan berita sepak bola terupdate lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!