Competitions
Gelombang kritik kembali menghantam PSSI setelah beredar kabar bahwa pada turnamen Piala Presiden 2026 mendatang, klub-klub dari Liga 1 dan Liga 2 Indonesia tidak akan dilibatkan. Sebagai gantinya, justru disebut ada 64 klub asing yang diundang.
Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti blunder besar. Bagaimana mungkin federasi mengabaikan kompetisi domestik yang menjadi tulang punggung sepak bola nasional? Namun, jika ditarik ke belakang, pola ini sebetulnya sudah mulai terlihat pada Piala Presiden 2025, di mana hanya 4 klub Liga 1 yang tampil, sementara 2 klub asing (Port FC dari Thailand dan Oxford United dari Inggris) ikut serta.
Pada 2025, Ketua Umum PSSI Erick Thohir berdalih bahwa undangan untuk klub asing adalah bentuk apresiasi kepada mereka yang memberi kesempatan pemain Indonesia berkarier. Meski jumlahnya kecil, publik masih bisa menerima. Namun, jika di 2026 benar-benar terjadi skenario tanpa Liga 1 & Liga 2, ini jelas meninggalkan tanda tanya besar:
Di sisi lain, tidak sedikit pihak yang melihat langkah ini sebagai strategi besar PSSI. Dengan mengundang puluhan klub asing, Indonesia bisa menjadi tuan rumah turnamen internasional mini yang memperluas exposure, mempererat hubungan diplomatik antar klub, hingga menarik sponsor global.
Dalam logika bisnis, hal ini bisa meningkatkan value sepak bola Indonesia di mata dunia. Bayangkan stadion diisi klub-klub luar dengan basis fans internasional, disiarkan ke berbagai negara, dan melibatkan sponsor multinasional. Jika berhasil, ini bisa jadi gebrakan yang menempatkan Indonesia sebagai hub sepak bola di Asia Tenggara.
Namun, masalahnya ada pada komunikasi dan transparansi. Sejak edisi 2025, PSSI tidak pernah memberi penjelasan detail soal format, kriteria undangan, maupun roadmap jangka panjang. Publik dibiarkan menerka-nerka, hingga rumor liar seperti 64 klub luar negeri jadi bahan spekulasi besar.
Di titik inilah PSSI berpotensi dianggap blunder, bukan pada idenya, melainkan pada caranya mengelola ekspektasi publik dan mengabaikan rasa memiliki klub serta suporter lokal.
Ikuti terus analisis, opini, dan update terbaru seputar sepak bola Indonesia hanya di ShotsGoal, biar kamu nggak ketinggalan berita panas seperti ini.
Keputusan PSSI bisa dibaca dua arah:
Sepak bola bukan hanya soal bisnis dan citra, tapi juga soal identitas dan kebanggaan lokal. Maka, bola panas kini ada di tangan PSSI berani transparan dan menggabungkan kepentingan global dengan kebutuhan domestik, atau kembali tercatat sebagai federasi yang gagal membaca hati rakyatnya sendiri.
Ikuti terus analisis, opini, dan update terbaru seputar sepak bola Indonesia hanya di ShotsGoal, biar kamu nggak ketinggalan berita panas seperti ini.