Competitions
Daniel Levy, Chairman Tottenham Hotspur, mendesak agar 115 kasus pelanggaran Financial Fair Play (FFP) yang menjerat Manchester City segera diselesaikan. Menurutnya, proses yang berlarut-larut tidak adil bagi kompetisi dan klub lain di Liga Premier.
Manchester City dituduh melakukan pelanggaran keuangan, termasuk manipulasi data transfer dan pembayaran gaji pemain, selama periode sembilan tahun. Kasus ini telah memasuki tahap persidangan sejak September 2023 dan diperkirakan baru akan mencapai keputusan akhir pada 2025.
Levy menegaskan bahwa penyelesaian yang cepat diperlukan untuk menjaga integritas kompetisi. Jika terbukti bersalah, Manchester City berpotensi menghadapi sanksi berat, mulai dari pengurangan poin hingga degradasi ke divisi yang lebih rendah.
Desakan Levy ini mencerminkan keresahan banyak pihak di dunia sepakbola, yang menginginkan transparansi dan keadilan dalam regulasi keuangan klub. Proses hukum yang terlalu lama dinilai dapat merusak kredibilitas liga dan menciptakan ketidakpastian kompetitif.
Selain menyinggung kasus Manchester City, Levy juga mengkritik praktik sponsorship yang melibatkan kepemilikan terkait (related-party transactions).
Dia mencontohkan kerja sama Manchester City dengan Etihad Airways, maskapai milik Uni Emirat Arab yang memiliki hubungan erat dengan pemilik klub, Sheikh Mansour. Menurutnya, hal ini dapat menciptakan ketimpangan kompetitif.
Levy menegaskan bahwa kepemilikan klub oleh entitas negara bukanlah masalah, selama tidak disertai praktik sponsorship yang tidak wajar. Dia mendorong adanya regulasi lebih ketat di tingkat Eropa untuk mengawasi transaksi-transaksi mencurigakan antara klub dan sponsor yang memiliki hubungan khusus dengan pemilik.
"Jika klub-klub bisa membuat kesepakatan sendiri dengan sponsor terkait, itu memberi mereka keunggulan tidak adil dibandingkan klub lain," ujar Levy. Kritik ini menyoroti perlunya reformasi sistem finansial sepakbola modern untuk mencegah distorsi pasar dan memastikan fair play antarklub.
Jika Manchester City dinyatakan bersalah dalam 115 pelanggaran FFP, konsekuensinya bisa sangat serius. Klub asuhan Pep Guardiola tersebut berisiko menghadapi hukuman seperti denda besar, larangan transfer, pengurangan poin, atau bahkan degradasi.
Sanksi ini tidak hanya akan mempengaruhi performa tim, tetapi juga reputasi klub di kancah Eropa. Selain itu, lamanya proses hukum telah menciptakan ketidakpastian bagi manajemen dan pemain.
Meski City tetap dominan di lapangan, bayangan sanksi dapat mengganggu stabilitas jangka panjang klub. Beberapa pihak juga mempertanyakan mengapa proses ini memakan waktu lebih lama dibandingkan kasus serupa yang menimpa klub lain, seperti Everton atau Nottingham Forest.
Bagi rival-rival Manchester City, penyelesaian kasus ini sangat penting untuk menentukan level playing field di Liga Premier. Hasil akhirnya bisa menjadi preseden bagi penegakan aturan finansial di masa depan.
Levy menyerukan perlunya perubahan sistem regulasi keuangan sepakbola untuk mencegah ketidakadilan kompetitif. Dia mengusulkan pengawasan lebih ketat terhadap transaksi pihak terkait dan mekanisme yang lebih transparan dalam pelaporan keuangan klub.
Menurutnya, Liga Premier dan UEFA harus bekerja sama menciptakan standar yang jelas dan berlaku adil bagi semua klub. Tanpa reformasi, kesenjangan finansial antara klub yang didukung dana tak terbatas dan klub dengan model bisnis konvensional akan semakin melebar.
"Sepakbola perlu aturan yang lebih rinci untuk mengontrol transaksi mencurigakan," tegas Levy. Seruan ini sejalan dengan upaya banyak pihak yang menginginkan kompetisi lebih adil, di mana kesuksesan ditentukan oleh prestasi di lapangan, bukan oleh keunggulan finansial yang tidak sehat.