Competitions
Barcelona memulai Liga Champions musim ini dengan ambisi besar untuk kembali meraih gelar yang terakhir kali mereka dapatkan pada 2015. Namun, performa yang ditampilkan jauh dari kata meyakinkan. Dari lima laga fase liga, Barca hanya mampu meraih dua kemenangan dan dua kekalahan, termasuk tumbang dari juara bertahan PSG dan Chelsea. Hasil ini membuat posisi mereka terpuruk di peringkat ke-18 dengan tujuh poin.
Perjalanan musim lalu sempat memberi harapan ketika Barcelona mencapai semifinal pertama mereka dalam enam tahun. Namun, kekalahan agregat 6-7 dari Inter Milan menunjukkan betapa rentannya Barcelona ketika menghadapi tekanan tinggi.
Kebobolan tujuh gol di semifinal memperjelas masalah besar yang belum terselesaikan. Situasi tersebut memunculkan keraguan besar dari berbagai pihak, termasuk legenda Prancis Emmanuel Petit, yang menilai Barcelona tidak memiliki konsistensi untuk bersaing di level tertinggi.
Petit secara tegas menyebut Barcelona tidak memiliki pemain kelas dunia yang cukup untuk menjuarai Liga Champions. Menurutnya, skuad Barcelona saat ini jauh dari level tim era Lionel Messi, Luis Suarez, Neymar, Xavi, dan Iniesta. Lamine Yamal memang menjadi talenta muda paling bersinar, tetapi Petit menilai terlalu berat jika beban tim ditumpukan kepadanya seorang diri.
Barcelona memiliki pemain berkualitas, namun tidak ada figur megabintang yang mampu mengangkat performa tim dalam momen-momen krusial. Bahkan Messi dulu pun tidak bisa menjuarai Liga Champions tanpa dukungan rekan-rekan kelas dunia di sekelilingnya.
Kondisi ini membuat Barcelona sulit bersaing dengan tim-tim besar Eropa yang memiliki kedalaman skuad lebih solid dan pemain-pemain berpengalaman di setiap lini.
Selain kualitas individu, masalah terbesar Barcelona saat ini terletak pada lini pertahanan yang dinilai terlalu mudah ditembus. Petit menegaskan bahwa tidak mungkin sebuah tim bisa menjuarai Liga Champions jika memiliki pertahanan yang rapuh. Kekalahan dari Inter dengan kebobolan tujuh gol menjadi bukti nyata kurangnya soliditas dan organisasi di lini belakang.
Hingga matchday kelima, Barcelona terus menunjukkan kelemahan yang sama, kehilangan fokus dan sering memberikan ruang bagi lawan untuk menciptakan peluang. Hal ini membuat mereka kesulitan menjaga momentum dan meraih poin penting.
Dengan tiga laga tersisa di fase liga, Barcelona harus segera memperbaiki pertahanan dan memperkuat mentalitas jika ingin memulihkan peluang. Namun, jika dua masalah utama ini tidak segera diatasi, ancaman gagal total di Liga Champions tampaknya bukan sekadar prediksi, melainkan kenyataan yang sulit dihindari. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!