Competitions
Bayer Leverkusen resmi memecat Erik ten Hag hanya setelah tiga pertandingan resmi di musim 2025/26. Keputusan ini menjadikannya pelatih dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah Bundesliga, melampaui rekor sebelumnya yang bertahan pada angka lima pertandingan. Kejadian ini menandai akhir yang brutal sekaligus kegagalan historis bagi pelatih asal Belanda yang baru saja mengambil alih kursi panas dari Xabi Alonso.
Ten Hag yang sebelumnya menangani Manchester United datang dengan reputasi besar, namun sejak awal sudah menghadapi tantangan berat. Banyak pemain kunci hengkang di bursa transfer musim panas, termasuk Florian Wirtz, Jeremie Frimpong, Jonathan Tah, Granit Xhaka, hingga kiper senior Lukas Hradecky. Sebagai gantinya, Leverkusen mendatangkan 17 pemain baru dengan investasi mencapai 198 Juta Euro. Namun, perubahan besar ini justru membuat tim kehilangan arah.
Pertandingan melawan Werder Bremen menjadi momen penutup Ten Hag. Meski unggul 3-1 dengan keunggulan jumlah pemain, Leverkusen harus puas dengan hasil imbang 3-3 setelah kebobolan dua gol telat. Momen itu semakin menegaskan bahwa tim tidak memiliki kestabilan, sekaligus menguatkan keputusan manajemen untuk mengambil langkah ekstrem.
Selain hasil buruk di lapangan, Ten Hag juga kesulitan menjaga wibawa di ruang ganti. Salah satu insiden mencolok adalah perdebatan mengenai eksekutor penalti saat melawan Bremen, ketika Patrik Schick dan Exequiel Palacios berebut bola hingga harus dipisahkan oleh kapten Robert Andrich. Situasi ini mencerminkan lemahnya otoritas pelatih, yang bahkan diakui Ten Hag sendiri sebagai sesuatu yang "tidak bisa diterima".
Pernyataan Andrich seusai laga semakin memperjelas masalah. Sang kapten menyebut bahwa banyak pemain lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan tim, sebuah indikasi bahwa harmoni internal sudah retak sejak awal. Kritik ini menggema, mengingat Andrich juga pernah melontarkan komentar serupa pada era Gerardo Seoane, sebelum akhirnya digantikan oleh Alonso.
Manajemen Leverkusen pun tampak enggan memberikan dukungan penuh. Baik CEO Fernando Carro maupun direktur olahraga Simon Rolfes tidak menunjukkan pembelaan publik terhadap Ten Hag, bahkan sebelum laga melawan Bremen. Diamnya pihak manajemen dianggap sebagai tanda bahwa keputusan untuk berpisah sudah dipertimbangkan jauh sebelumnya.
Ten Hag memang mengambil alih tim dalam kondisi sulit, namun beberapa langkahnya memperburuk keadaan. Salah satunya adalah pernyataan publik mengenai keinginannya mempertahankan Granit Xhaka, padahal manajemen sudah merencanakan penjualan gelandang Swiss tersebut. Komentar ini menimbulkan ketegangan internal, sekaligus memperlihatkan kurangnya komunikasi antara pelatih dan manajemen.
Kritik juga datang dari luar terkait gaya komunikasi Ten Hag. Media Jerman seperti Kicker menyebutnya keras kepala dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara media Belanda menyoroti sikapnya yang dingin dan kurang bersemangat, berbeda jauh dengan gaya penuh energi para pelatih Jerman pada umumnya. Hal ini berdampak pada kepercayaan pemain, yang merasa kurang terhubung secara emosional dengan sang pelatih.
Insiden lain yang memperburuk citra Ten Hag adalah kekalahan 1-5 dari tim U-20 Flamengo di pramusim. Alih-alih menunjukkan rasa tanggung jawab, ia justru berkata bahwa dirinya "tidak peduli dengan hasil pramusim". Respons ini menimbulkan tanda tanya besar tentang kapasitasnya dalam memimpin tim yang sedang berada dalam masa transisi besar.
Pemecatan Ten Hag memberikan pesan jelas bahwa Bayer Leverkusen tidak mau mengambil risiko terlalu lama dalam eksperimen kepelatihan. Dengan target mempertahankan posisi elite di Bundesliga dan bersaing di Liga Champions, manajemen memilih bergerak cepat untuk mencari pengganti yang lebih sesuai. Untuk sementara, tugas pelatihan akan diambil alih oleh staf asisten sambil menunggu pelatih baru.
Situasi ini menjadi peringatan bagi pelatih lain, termasuk Ruben Amorim yang disebut-sebut sebagai kandidat jangka panjang. Suksesi dari Xabi Alonso yang membawa Leverkusen meraih gelar ganda musim lalu terbukti sebagai beban besar yang sulit dipikul, terlebih di tengah eksodus pemain bintang dan tekanan tinggi dari manajemen.
Bagi Ten Hag, ini menjadi noda dalam kariernya setelah pengalaman naik-turun di Manchester United. Kritik bahwa dirinya kurang memiliki "Semangat" dan gagal membangun hubungan emosional dengan pemain kembali mengemuka, memperkuat persepsi bahwa reputasinya lebih banyak terbangun dari aspek taktik ketimbang kepemimpinan.
Ke depan, Leverkusen harus segera menemukan stabilitas untuk menghadapi jadwal padat, termasuk pertandingan penting di Liga Champions melawan Manchester City dan Newcastle. Apa pun keputusan berikutnya, langkah cepat ini menunjukkan bahwa klub tidak segan untuk mengorbankan nama besar demi menjaga momentum.
Ikuti terus perkembangan terbaru seputar Bayer Leverkusen, Bundesliga, dan isu-isu besar sepak bola dunia hanya di ShotsGoal.