Competitions
Keputusan PSSI menggelar Piala Presiden 2026 tanpa melibatkan klub Liga 1 dan Liga 2 sontak mengundang tanda tanya besar. Turnamen yang sejak 2015 dikenal sebagai ajang pramusim paling prestisius di tanah air kini hanya akan diikuti oleh 64 klub dari Liga 3 dan Liga 4. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi pembinaan pemain muda, namun publik mempertanyakan apakah keputusan ini tepat, baik dari sisi kompetisi maupun daya tarik turnamen.
Rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI di Surabaya, 9 September 2025, menjadi titik awal perubahan besar tersebut. Dalam rapat itu diputuskan bahwa Piala Presiden 2026 akan berlangsung pada April 2026 dengan sistem kompetisi baru. Sebanyak 64 tim peserta akan diambil dari juara Liga 3 tingkat provinsi serta tim-tim terbaik Liga 4 tingkat kabupaten/kota. Klub Liga 1 dan Liga 2 yang biasanya menjadi magnet utama turnamen ini resmi tidak dilibatkan.
Bagi penikmat sepak bola tanah air, perubahan ini mengejutkan. Selama ini, Piala Presiden selalu menjadi ajang uji coba penting bagi klub profesional sebelum Liga 1 dimulai. Stadion penuh, siaran televisi ramai, sponsor masuk deras, dan pertandingan menghadirkan atmosfer sekelas kompetisi resmi.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk memperkuat pembinaan sepak bola dari level akar rumput. Dengan mengarahkan Piala Presiden sebagai turnamen bagi klub amatir, PSSI ingin memberi panggung bagi pemain muda berbakat dari seluruh Indonesia agar mendapat pengalaman berkompetisi di level nasional.
Selain itu, PSSI juga menyiapkan regulasi khusus terkait penggunaan pemain muda. Meski detailnya belum dipublikasikan, rencananya akan ada batas usia dan persentase pemain U-23 atau bahkan U-20 yang wajib dimainkan. Harapannya, regulasi ini mendorong regenerasi pemain dan memperluas basis talenta.
Meski niat PSSI patut diapresiasi, sejumlah kritik muncul. Pertama, dari sisi kualitas kompetisi. Dengan tidak adanya klub Liga 1 dan Liga 2, pamor Piala Presiden berpotensi menurun. Turnamen ini sebelumnya selalu ditunggu karena menampilkan laga antar klub papan atas, seperti Persib, Arema, Persija, hingga Persebaya. Tanpa mereka, apakah publik masih antusias?
Kedua, masalah finansial. Klub amatir di Liga 3 dan Liga 4 kerap kesulitan dana, bahkan untuk sekadar bertahan di kompetisi daerah. Bagaimana mereka sanggup menanggung biaya perjalanan, transportasi, hingga akomodasi jika harus bermain di level nasional? Jika tidak ada subsidi jelas dari PSSI, turnamen ini bisa menjadi beban berat.
Ketiga, dampak terhadap klub profesional. Piala Presiden selama ini menjadi sarana persiapan ideal sebelum Liga 1 dimulai. Kehilangan ajang pramusim kompetitif bisa merugikan pelatih dan pemain dalam membangun kekompakan tim.
Sebagian pengamat menilai, seharusnya PSSI tidak menutup total pintu bagi klub Liga 1 dan Liga 2. Format campuran, seperti Piala FA di Inggris, bisa menjadi solusi. Klub amatir tetap mendapat kesempatan tampil, namun tetap ada daya tarik kompetitif ketika mereka berhadapan dengan klub besar. Hal itu justru bisa menciptakan cerita heroik, kejutan, dan meningkatkan popularitas turnamen.
Dengan format saat ini, risiko yang muncul adalah Piala Presiden kehilangan nilai jual. Sponsor mungkin enggan berinvestasi, penonton bisa kehilangan minat, dan media tidak lagi memberi sorotan sebesar sebelumnya. Padahal, keberhasilan sebuah turnamen tak hanya ditentukan oleh niat pembinaan, tetapi juga daya tarik dan keberlanjutan ekosistem sepak bola.
PSSI memang memiliki misi mulia dalam memperkuat akar rumput dan membuka jalan bagi generasi muda. Namun, mengorbankan pamor Piala Presiden demi tujuan tersebut masih perlu dipertanyakan. Tanpa keterlibatan klub profesional, turnamen ini berisiko kehilangan identitasnya sebagai ajang bergengsi.
Kini, semua mata tertuju pada April 2026. Apakah Piala Presiden versi baru ini benar-benar menjadi tonggak lahirnya bintang-bintang baru sepak bola Indonesia? Ataukah justru akan dikenang sebagai keputusan kontroversial yang meredupkan salah satu turnamen paling ikonik di tanah air?
Ikuti terus analisis, opini, dan update terbaru seputar sepak bola Indonesia hanya di ShotsGoal, biar kamu nggak ketinggalan berita panas seperti ini.