Competitions
Liverpool kembali mengalami mimpi buruk dalam dua laga terakhir Premier League. Setelah sebelumnya dihajar Manchester City dengan skor 3-0 di Etihad Stadium, pasukan Arne Slot kembali babak belur saat menjamu Nottingham Forest di Anfield. Kekalahan beruntun dengan margin tiga gol ini menjadi pukulan telak bagi juara bertahan Liga Inggris.
Pada laga kontra Forest, Liverpool tak mampu menunjukkan permainan dominan seperti biasanya. Murillo membuka keunggulan tim tamu di babak pertama, sebelum Nicolo Savona dan Morgan Gibbs-White menambah penderitaan The Reds di paruh kedua. Hasil 0-3 ini membuat atmosfer Anfield terasa muram dan penuh kekecewaan.
Kekalahan tersebut menjadi alarm keras bagi Liverpool. Tidak hanya soal skor, tetapi juga merosotnya performa dan rasa percaya diri skuad. Dalam dua pertandingan yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan, The Reds justru tampil tanpa daya dan kehilangan karakter bermain mereka.
Opta mencatat bahwa ini adalah pertama kalinya dalam 60 tahun Liverpool kalah lebih dari tiga gol dalam dua laga liga secara beruntun. Catatan kelam tersebut terakhir terjadi pada April 1965, ketika skuad Bill Shankly yang juga berstatus juara bertahan Liga Inggris kalah 0-3 dari West Bromwich Albion dan Tottenham Hotspur.
Pengulangan rekor buruk tersebut menjadi gambaran betapa turunnya performa Liverpool musim ini. Tim yang beberapa musim lalu disebut sebagai salah satu yang terkuat di Eropa kini harus menghadapi kenyataan pahit. Kesamaan dengan kondisi 60 tahun lalu juga menambah tekanan, mengingat hasil di musim tersebut tidak berakhir manis.
Fakta bahwa Liverpool kembali merasakan kejatuhan semacam ini menunjukkan adanya masalah mendalam dalam skuad. Baik dari sisi mental, organisasi permainan, hingga adaptasi terhadap taktik baru terlihat belum stabil di bawah kepemimpinan Arne Slot.
Liverpool saat ini tercatat telah menelan delapan kekalahan dalam sebelas pertandingan terakhir di semua kompetisi. Angka tersebut menunjukkan tren negatif yang semakin sulit dibantah. Di Liga Inggris, mereka sudah enam kali kalah hanya dari dua belas pertandingan yang telah dimainkan.
Rentetan hasil buruk ini jelas mengkhawatirkan bagi sebuah tim yang musim lalu meraih gelar liga. Konsistensi yang hilang membuat Liverpool semakin terseret dari papan atas klasemen dan berjuang keras untuk mempertahankan posisi kompetitifnya. Permainan yang tidak solid dan lini pertahanan yang rapuh turut memperparah situasi.
Kondisi ini memberi tekanan besar kepada para pemain dan pelatih. Fans mulai mempertanyakan arah permainan tim, sementara Slot harus menemukan solusi cepat untuk menghentikan tren negatif sebelum semakin menggulung mereka.
Kekalahan dari Forest membuat Liverpool merosot ke posisi 11 klasemen Premier League dengan 18 poin. Mereka berada tepat di bawah Manchester United, yang memiliki poin yang sama namun belum memainkan matchday ke-12. Penurunan ini jelas kontras dengan status mereka sebagai juara bertahan.
Situasi saat ini mengingatkan kembali pada musim 1965 ketika Liverpool, yang kala itu juga berstatus juara bertahan, harus puas finis di posisi ketujuh. Dengan performa yang tidak stabil musim ini, hasil serupa atau bahkan lebih buruk bisa saja terulang jika mereka tidak segera bangkit.
Musim 2025/2026 bisa menjadi salah satu musim paling mengecewakan bagi Liverpool jika tidak ada perubahan signifikan. Sebagai juara bertahan, terjun bebas dari persaingan papan atas tentu menjadi kenyataan pahit yang ingin mereka hindari. Saksikan terus kabar terbaru seputar sepak bola, dari analisis mendalam, hingga berita eksklusif lainnya hanya di ShotsGoal!