Competitions
EFL baru-baru ini memberikan pernyataan mengejutkan. Salah satu mantan asisten wasit mereka, Gareth Viccars, saat ini dipenjara karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Viccars, yang saat ini berusia 47 tahun dari Shackleton Place, Oldbrook, Milton Keynes, sebelumnya mengaku bersalah atas 16 dakwaan. Ini termasuk komunikasi seksual dengan anak di bawah umur, bertemu dengan anak di bawah umur setelah melakukan komunikasi seksual, menyebabkan atau menghasut anak di bawah umur untuk melakukan aktivitas seksual, dan melakukan aktivitas seksual dengan anak di bawah umur. Pelanggaran tersebut berlangsung selama tiga tahun antara November 2021 hingga Oktober 2024 dan diketahui melibatkan tiga anak perempuan berusia 15 tahun, menurut pengadilan Snaresbrook Crown.
Pada hari Kamis waktu setempat, Viccars divonis bersalah dan akan mendapat hukuman penjara selama 13,5 tahun. "Anda sengaja menargetkan ketiga korban muda ini dan Anda melakukannya karena usia mereka pada saat itu. Oleh karena itu, saya cukup yakin bahwa dalam ketiga kasus tersebut, Anda memangsa perempuan muda yang rentan," ujar Hakim Caroline English saat menyampaikan hasil vonis.
Sang hakim mengatakan bahwa meskipun Viccars mengaku bersalah dan menyatakan penyesalan, terdakwa masih belum mengakui bahwa ia memiliki minat seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Minat ini terlihat jelas dari isi pesan yang dikirimkan kepada para korbannya dan pernyataan dari mantan pacar Viccars, yang mengatakan bahwa Viccars pernah memintanya untuk berfoto mengenakan seragam sekolah. Ini yang menjadi bahan pertimbangan untuk memberikan hukuman berat bagi Viccars.
Jaksa Charlotte Newell mengatakan kepada pengadilan bahwa Viccars bertemu korbannya secara daring melalui aplikasi perpesanan Snapchat dan mengatakan kepada salah satu gadis tersebut bahwa berbicara di WhatsApp terlalu berisiko. Ia mengatakan Viccars telah berbohong dan mengatakan kepada salah satu korbannya bahwa ia adalah seorang guru ketika mereka pertama kali berkomunikasi dan menyadari bahwa gadis itu berusia 15 tahun. Newell membacakan transkrip pesan suara yang dikirim Viccars kepada salah satu korbannya, di mana ia menyebut korbannya sebagai seorang gadis kecil dan dirinya sebagai seorang guru.
"Sang perempuan mengatakan bahwa ia kesepian dan ia hanya ingin seseorang untuk diajak bicara. Sang terdakwa menyadari hal itu dan menyalahgunakannya, menjadikan komunikasi tersebut bersifat seksual," ujar Newell saat menjelaskan apa yang terjadi. Di pengadilan, salah satu korban membacakan pernyataan yang menyatakan bahwa pelaku telah menjadi dunianya dan bahwa ia telah mempercayainya sepenuhnya selama hampir tiga tahun, tanpa sadar bahwa dirinya telah dijadikan objek seksual.
Menanggapi pelaku, ia mengatakan bahwa pelaku telah memenangkan hatinya dengan kata-kata baik dan perhatian yang berlebih. "Sekarang aku tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Sangat menjijikkan," ujarnya.
Kini, Gareth Viccars akan mendekam di penjara atas perbuatan tidak senonohnya. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!