Competitions
Paul Scholes dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah menghiasi Premier League. Lebih dari dua dekade ia habiskan di Manchester United, tampil dalam lebih dari 700 pertandingan dan memenangkan 25 trofi bergengsi, termasuk 11 gelar Liga Inggris dan dua Liga Champions. Konsistensi dan kecerdasannya membuatnya dihormati pemain top di seluruh dunia.
Selama karier panjangnya, Scholes berhadapan dengan nama-nama besar seperti Zinedine Zidane, Ronaldinho, Cristiano Ronaldo, hingga Andrea Pirlo. Banyak dari mereka mengakui kualitas Scholes sebagai gelandang jenius dengan visi permainan luar biasa. Meski begitu, Scholes baru-baru mengakui jika dia baru pernah sekali melakukan ritual bertukar jersei seusai laga.
Dalam siniar The Good, The Bad and The Football, Scholes mengungkap fakta mengejutkan. Sepanjang kariernya menghadapi pemain kelas dunia, hanya Thierry Henry legenda Arsenal yang pernah ia mintai tukar jersei. Namun alasan utama di balik permintaan itu bukan untuk dirinya sendiri.
Scholes bercerita bahwa putranya, Arron, adalah penggemar berat Henry. Karena itu, ia memberanikan diri meminta jersei sang striker Prancis demi membahagiakan sang anak. Tidak hanya itu, Scholes meminta Henry menandatanganinya secara khusus. Baginya, itu adalah momen spesial sebagai seorang Ayah.
Selain Henry, Scholes mengaku dirinya memiliki jersei Andres Iniesta. Namun, berbeda dari kasus Henry, justru Iniesta yang menghampirinya dan meminta tukar jersei. Scholes menegaskan bahwa ia dan rekan setimnya jarang mengambil inisiatif karena budaya tim yang berbeda.
Nicky Butt, rekan dekat Scholes di Manchester United, mengaku punya prinsip yang hampir sama. Ia jarang meminta jersei pemain lawan, bukan karena tidak menghargai mereka, tetapi karena memang tidak terbiasa melakukannya. Namun, ada satu momen istimewa yang tak pernah ia lupakan.
Butt mengisahkan bahwa Zidane justru memberikan jerseinya secara sukarela setelah laga Manchester United vs. Juventus. Dengan nada bercanda, Butt berkata bahwa itu seperti tamparan kecil terakhir setelah Zidane membuatnya terlihat konyol sepanjang pertandingan. Namun bagi Butt, menerima jersei Zidane tetap menjadi pengalaman berkesan.
Pengakuan Butt menunjukkan bahwa beberapa pemain besar memiliki rasa hormat tinggi terhadap lawannya. Meski bertarung sengit di lapangan, hubungan antar pemain seringkali penuh saling penghargaan dan momen spontan seperti itu sangat berarti.
Meski begitu, jika ada lawan yang datang lebih dulu meminta tukar jersei, para pemain biasanya tidak menolak. Namun inisiatif meminta lebih dulu sangat jarang dilakukan. Pengakuan Paul Scholes ini pun menambah daftar cerita klasik yang menggambarkan disiplin tinggi era Manchester United selama dilatih oleh Sir Alex Ferguson. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!