Competitions
Media sosial kini menjadi platform umum bagi pemain dan pelatih untuk membagikan aktivitas sehari-hari mereka. Kehadirannya membawa banyak manfaat, termasuk membangun kedekatan dengan penggemar serta memperluas pengaruh di luar lapangan. Namun, di balik sisi positif tersebut, ada ancaman serius berupa komentar kasar yang kerap diterima publik figur sepakbola.
BBC mencatat lebih dari dua ribu unggahan bernada negatif yang ditujukan kepada insan Premier League pada November 2025. Sejumlah pelatih seperti Ruben Amorim, Arne Slot, dan Eddie Howe menjadi sasaran utama, terutama melalui platform X. Kondisi ini membuat banyak pelatih harus berpikir ulang untuk aktif di dunia digital.
Ruben Amorim termasuk sosok yang memilih melindungi diri dengan menjauhi medsos. Ia sadar bahwa paparan komentar kasar bisa mengganggu fokus dan kestabilan mentalnya. Oleh karena itu, ia menetapkan batasan yang tegas terhadap dirinya sendiri agar tetap profesional dan tenang dalam menjalani tugas sebagai manajer Manchester United.
Ruben Amorim secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak membaca komentar atau pemberitaan tentang dirinya di platform apa pun. Menurutnya, cara ini merupakan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan mental, terutama ketika tekanan dari pekerjaan sudah sangat besar. Ia juga menghindari tayangan televisi yang membahas Manchester United agar tidak terpengaruh secara emosional.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa pendapat dirinya sendiri sebagai pelatih sudah cukup untuk mengevaluasi apa yang terjadi pada tim. Ia tidak membutuhkan tambahan opini dari luar yang justru bisa memperberat beban pikirannya. Prinsip inilah yang membuatnya kukuh menjauh dari segala bentuk interaksi digital.
Amorim menilai bahwa melindungi diri adalah satu-satunya cara untuk tetap waras dalam dunia sepak bola modern yang penuh sorotan. Ia percaya setiap pelatih perlu menentukan batasan agar dapat mempertahankan performa dan keseimbangan emosional.
Keputusan Amorim menjauhi media sosial bukan tanpa konsekuensi. Ia mengakui kehilangan peluang mendapatkan pemasukan tambahan dari sponsor atau kerja sama digital. Bagi banyak publik figur, media sosial adalah ladang cuan yang menggiurkan, tetapi tidak demikian bagi Amorim.
Menurutnya, ketenangan keluarga dan kualitas hidup jauh lebih penting dibandingkan uang tambahan dari postingan sponsor. Ia ingin tetap hidup normal tanpa gangguan komentar tajam yang dapat memengaruhi suasana hati atau kehidupan pribadi. Prioritas utamanya adalah menjaga kenyamanan orang terdekat dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Amorim menyadari bahwa sebagai pelatih klub besar, ia akan selalu menjadi sasaran kritik. Namun, ia lebih memilih rugi secara finansial daripada kehilangan ketenangan yang jauh lebih berharga untuk jangka panjang.
Dalam dunia sepak bola yang penuh tekanan, Amorim menyebut dirinya sebagai orang yang paling keras menilai performanya sendiri. Kekalahan atau permainan buruk sudah cukup memberinya beban emosional tanpa perlu tambahan tekanan dari komentar di media sosial.
Ia melihat serangan digital sebagai sesuatu yang sudah dianggap normal di era modern, meski dampaknya tidak bisa diremehkan. Oleh sebab itu, ia mengambil langkah berbeda dengan menjaga jarak dari ruang digital yang berpotensi merusak keseimbangan mentalnya.
Dengan keputusan ini, Amorim menunjukkan bahwa melindungi kesehatan mental adalah pilihan berani dan bijak. Di tengah kerasnya lingkungan sepak bola, menjaga diri tetap waras adalah kunci untuk tetap bertahan dan terus memberikan yang terbaik bagi timnya. Simak terus pembahasan sepak bola menarik lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!