Competitions
Budapest awalnya dipenuhi optimisme ketika Hungaria turun menghadapi Republik Irlandia dalam laga penentuan Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Dukungan penuh di Puskas Arena membuat publik percaya bahwa penantian panjang menuju Piala Dunia sejak 1986 akan segera berakhir. Kapten Dominik Szoboszlai tampil penuh determinasi, memimpin rekan-rekannya dengan keyakinan kuat. Namun alur pertandingan berubah menjadi drama yang sulit dilupakan. Dua kali unggul tidak mampu dijaga hingga akhir, dan energi besar yang semula memenuhi stadion perlahan berubah menjadi kegelisahan,
Kegembiraan sempat meluap ketika Daniel Lukacs membuka keunggulan cepat, disusul gol Barnabas Varga yang membuat Hungaria kembali memimpin. Dalam suasana penuh emosi itu, Szoboszlai melakukan selebrasi yang ramai dibahas karena dianggap menyindir pendukung Irlandia. Pada saat itu, suasana tampak memihak tuan rumah, dan mereka berada di jalur tepat untuk lolos.
Namun kepercayaan diri itu tak bertahan lama. Troy Parrott menyamakan kedudukan di menit ke-80, membuat tensi pertandingan melonjak drastis. Hungaria mencoba mempertahankan hasil imbang, tetapi tekanan Irlandia justru semakin kuat di waktu tambahan yang sangat menentukan. Ketegangan berubah menjadi kekacauan emosional.
Puncak tragedi datang ketika Parrott mencetak gol di menit 90 + 6, membuat stadion seketika terdiam. Selebrasi emosional Szoboszlai sebelumnya langsung berubah menjadi simbol bumerang yang menyakitkan. Momen euforia yang ia tunjukkan justru kembali menghukumnya dengan cara yang paling dramatis.
Kekalahan ini menciptakan luka yang dalam bagi Hungaria yang gagal menambah poin penting dan mengakhiri perjalanan mereka di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Sementara itu, Republik Irlandia merayakan tiket Play-Off dan masih menjaga asa lolos ke Piala Dunia 2026.
Szoboszlai menjadi wajah paling jelas dari duka tersebut. Ia tersungkur, menutup wajahnya, dan menangis di tengah lapangan yang sebelumnya menjadi panggung harapannya. Semua beban sebagai kapten dan ikon tim seolah jatuh bersamaan dengan peluit panjang.
Ketika diwawancarai, Szoboszlai hanya mampu memberikan jawaban singkat. Saat ditanya seberapa besar sakit yang ia rasakan, ia menjawab dengan satu kata, "Sangat." Ketika disebut bahwa sepak bola bisa begitu kejam, jawabannya hanya, "Sepertinya begitu, ya." Kalimat singkat itu menggambarkan betapa beratnya malam tersebut bagi dirinya.
Dominik Szoboszlai dan rekan-rekannya harus bangkit dari rasa sakit ini untuk memulai perjalanan baru. Dan Puskas Arena, yang menyimpan air mata sang kapten, akan terus menjadi pengingat betapa kejam dan indahnya sepak bola. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!